TAO adalah Kebenaran Sejati
Dari : ?????
Sebagai umat yang bersembahyang ke Klenteng, kita seringkali mendapat celaan sebagai umat yang percaya pada tahayul karena menyembah patung.
Beberapa dari kita, yang imannya tidak mantap atau memang kurang pengertian terhadap Agama-nya, akan berpaling pada agama lain tersebut, dan hal ini akan berlangsung terus, bila ada orang yang mencelanya lagi, sehingga seumur hidup, orang tersebut tidak akan mengalami ketenangan batin. Seharusnya bila kita sudah menentukan agama yang akan kita anut, kita harus mempelajarinya hingga mendalam, bukan hanya percaya terhadap omongan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.
Sebagai contoh bahwa tidak semua omongan orang tersebut benar adalah “Bila menaruh Hio Sua harus menggunakan tangan kiri, karena jantung kita berada dikiri” cobalah kita pikir, apakah Dewa yang kita sembah tersebut mementingkan letak jantung à tentu tidak, yang penting adalah kemantapan hati. Dan menurut adat manusia bila kita menaruh atau memberikan sesuatu dengan tangan kiri, apakah sopan? Apalagi terhadap Dewa
Yang paling sering kita dengar adalah umat TAO sering dikritik oleh umat agama lain sebagai penyembah patung
Hal ini tentu ada sejarahnya, mungkin sedikit kisah ini akan dapat membantu.
Sejarah agama TAO (klenteng) dimulai sejak tahun 2697 SM yaitu pada dinasti HWANG TEE, tetapi Sejarah Tiongkok yang dapat dibuktikan dimulai sejak dinasti SANG (1783 SM) dan dinasti CHU (1134 SM) sedangkan San Tai keatas dianggap pra sejarah..
Pada jaman tersebut, orang bersembahyang kepada Dewa Agung (Tuhan) dan Dewa-Dewa tanpa memakai apa-apa hanya duduk atau berdiri dan memohon-mohon atau memuji-muji saja (pada waktu itu tidak ada patung atau lukisan apapun)
Diantara orang-orang tersebut ada yang dikaruniai dengan SEN YEN (Penglihatan gaib) sehingga bisa melihat rupa Dewa-Dewa tersebut. Beberapa dari mereka yang dikaruniai Sen Yen tersebut mencoba memberikan gambaran kepada orang lain, atau juga untuk dikenang oleh mereka sendiri, sehingga timbullah lukisan-lukisan Dewa. Karena pada dasarnya mereka bukanlah pelukis maka gambarnyapun jelek.
Gambar-gambar Dewa-pun dipajang oleh mereka-mereka itu, dan setiap kali mereka akan bersembahyang, mereka akan duduk atau berdiri dihadapan Gambar Dewa tersebut agar bisa lebih konsentrasi karena membayangkan kehadiran Beliau-Beliau itu, disini sudah ada kemajuan, mereka bukan lagi bersembahyang dengan hampa tetapi mereka sudah dapat membayangkan rupa Dewa,
Waktu berlalu, gambar-gambar tersebut disempurnakan oleh orang yang mempunyai karunia SEN YEN dan bisa melukis, sehingga gambarnyapun menjadi bagus, apalagi setelah dikenal kerajinan pahatan atau keramik sehingga dibuatlah patung-patung Dewa.
Patung-patung/Gambar Dewa tersebut juga ditempatkan disuatu tempat yang sekarang kita sebut altar, dan setiap kali bersembahyang maka orangpun menghadap pada altar tersebut, sambil konsentrasi dan membayangkan bahwa Beliau datang mendengarkan doa kita.
Jaman terus berlalu, manusia hidupnyapun sudah semakin kompleks, hingga mereka juga berpikir, altar sudah ada patung Dewanya bagaimana supaya lebih bagus bila diberi persembahan buah dll, dan karena telah dikenal juga wewangian maka merekapun membakarnya dialtar tersebut hingga sekarang dikenal sebagai hio sua dan dupa.
Dari sejarah tersebut dapat ditarik kesimpulan sbb:
1. Bahwa umat TAO (Klenteng) adalah manusia pertama yang mengenal Tuhan dan Dewa, mereka berdoa dan memuji-muji Beliau lebih dari 5.000 tahun yang lalu
2. Karena Tuhan dan Dewa itu ada, hal ini dibuktikan oleh mereka yang dikaruniai SEN YEN (mata gaib) dan untuk menerangkan kepada orang lain serta untuk dikenang oleh mereka sendiri, maka mereka melukis rupa Tuhan atau Dewa tersebut.
3. Karena kebanyakan manusia merasa lebih mantap bila ada obyek yang dilihat secara kongkrit (Dalam hal ini patung atau gambar Dewa) dan tempat yang khusus untuk bersembahyang, maka setiap kali mereka bersembahyang akan bersembahyang dihadapan altar Dewa.
4. Manusia pada dasarnya memiliki pikiran yang kompleks, sehingga altarpun ditambah dengan persembahan, lampu penerangan (lilin) dan wangi-wangian dll sehingga sedap dipandang mata.
Jadi dengan kata lain, bila ada yang mengatakan bahwa umat Tao (Klenteng) adalah penyembah berhala karena menyembah patung, jawaban kita sudah jelas bahwa kita bukan penyembah patung. Patung Dewa adalah tetap Patung Dewa sedangkan Dewa adalah tetap Dewa.
Kita mengatakan bahwa patung Dewa adalah patung Dewa sedangkan Dewa adalah Dewa, Tetapi kenapa pada suatu upacara keagamaan di klenteng ada patung yang sulit diangkat oleh manusia, bahkan kadang-kadang sangat ringan hingga yang mengangkatnya bisa melayang sendiri? Selain itu apakah boleh patung Dewa kita taruh sembarangan (karena patung Dewa bukan Dewa)?
Sebenarnya keajaiban tersebut dikarenakan Dewa, bukan patungnya. Beliau ingin menunjukkan bahwa Beliau ada -> bagi umat yang bersembahyang tetapi tidak dikaruniai SEN YEN (mata gaib) atau umat yang belum SIU TAO bagaimana bisa membuktikan bahwa Dewa itu ada, dengan cara itulah Beliau menunjukkan keberadaanNya agar umat timbul keyakinannya. Beliau ingin menunjukkan keberadaanNya atau tidak, adalah Hak Beliau, jadi bila dalam upacara keagamaan tidak ada keajaiban, jangan berpikir Beliau tidak ada -> tetapi sangat disayangkan dengan adanya keajaiban tersebut bukannya umat bertambah percaya kepada Dewa tetapi malah percaya bahwa patung tersebut berisi Dewa -> sangat lucu, bagaimana Dewa diisikan didalam Patung, apakah anda tidak merasa merendahkan Beliau dengan berpikir seperti itu?
Sedangkan kenapa patung Dewa tidak boleh ditaruh sembarangan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bertanya pada diri sendiri, pantaskah foto orang tua kita ditaruh sembarangan? Orang yang berbakti pada orang tuanya pasti akan mengatakan tidak pantas, begitu juga dengan foto atau patung Dewa tentu tidak pantas ditaruh sembarangan dan akan berdosa.
Hal lainnya yang sering dikritik oleh umat agama lain terhadap umat TAO adalah bahwa umat TAO menyembah banyak Dewa, didalam agama lain tersebut dikatakan bahwa Tuhan akan merasa iri bila umat manusia menyembah selain pada Tuhan itu sendiri
Yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat iri, adalah orang yang merendahkan Tuhan itu sendiri, kenapa? Tuhan itu sangat jauh lebih mulia dari manusia dapat dikatakan Maha Mulia, tentu tidak memiliki sifat iri, ini dapat dibuktikan dari hasil ciptaanNya bahwa Tuhan tidak membedakan orang yang menyembah Beliau atau tidak. Bahkan orang yang paling berdosapun tetap diberikan hak yang sama untuk menikmati Sinar Matahari, Udara dll. apakah Tuhan membedakannya? -> tentu tidak - Bahkan Tuhan juga mengajarkan kepada kita bahwa kita diharuskan untuk berbakti kepada orang tua, guru dll, apalagi terhadap Dewa-Dewa yang sudah pasti kesuciannya tidak perlu diragukan lagi, kita harus lebih berbakti dan mengikuti ajaranNya, karena dengan mengikuti ajaran Dewa-Dewa tersebut kita sudah mengikuti kehendak TAO (Tuhan) Apakah menyembah Dewa itu Tahayul/berhala? Tentu tidak, orang yang sedikit mengerti saja sudah pasti mengetahui jawabanNya. Bagi yang belum mengetahui sangat disayangkan -> Hujan tidak menghidupkan tumbuh-tumbuhan yang tidak berakar, Dewa-Dewa hanya menyeberangkan orang-orang yang mepunyai kejodohan saja.
Didalam agama TAO apakah ada jaminan untuk masuk kedalam Surga bila kelak sudah meninggal?
Didalam Kitab Suci Thay Sang Lauw Cin bab 10(1) menyebutkan
Belajar TAO berguna untuk semua orang
Sukma-sukma asli akan naik ke Surga
Dewa-Dewa yang menilai dosa dan jasa
Jasanya yang tinggi ditingkatkan jadi Dewa juga
Silahkan pikir sendiri apakah ada jaminan atau tidak? Bila kita WU (Mempunyai kesadaran yang tinggi) kita akan mengerti sendiri.
—-o0o—-
DIarsipkan di bawah: Volume 11 | yang berkaitan: agama, berhala, DEWA, Dewi, gambar, iman, klenteng, mata gaib, patung, SEN YEN, tao, tuhan, wu