GE CI RANG REN FEY WO RO JIEN SIN SU TAO REN DA JIANG

Dari : Siem Sit Cong.

Yang artinya :
Mengendalikan diri mengalah pada orang lain bukan menandakan kita lemah.
Dengan sepenuh hati merevisi diri lebih unggul dari segalanya.

Orang bijak jaman dahulu berkata,’Pada pagi hari mendengarkan ‘TAO’ sore harinya matipun bolehlah’, dari sini dapatlah disimak betapa berharganya TAO itu. Menurut cerita pada jaman dahulu apabila seseorang ingin Siu Tao sangatlah sulit, lain halnya dengan jaman sekarang orang Siu Tao sangat ‘enak’ tidak perlu melalui susah-payah dan proses yang berliku-liku. Dapat menjalani hidup secara normal, setiap waktu bisa berlatih dan belajar, TAO dapat diturunkan secara umum dan menemukan pula guru sejati untuk membimbing kita, apabila masih tidak mau belajar dengan sepenuh hati, sungguh namanya ‘orang yang dalam keberuntungan tetapi tidak sadar kalau lagi beruntung’.

Siu Tao memang tidak mudah, harus tegas dan tuntas, apabila hanya sekedar berbasa-basi sedikitpun tidak mempunyai tekad yang serius, akhirnya akan menelantarkan diri sendiri. Tinggalkan yang orang lain tidak sanggup meninggalkannya, putuskan keputusan yang orang lain tidak bisa memutuskan, relakan yang orang lain tidak bisa merelakannya, kerjakan yang orang lain tidak mau/tidak bisa mengerjakan, telan segala kegetiran yang orang lain tidak sanggup menelannya, tahankan yang bagi orang lain sulit untuk menahankannya (kesabaran). Bisa berlaku demikian baru bisa disebut orang Siu Tao. Sejak jaman dahulu para Dewa dan Budha manakah yang tidak mengalami penderitaan terlebih dahulu baru mencapai Tao, maka apabila mau Siu Tao haruslah tuntas dan sadar, jangan asal-asalan saja.

cigar.jpgDialam manusia ada setan, dimana melihatnya ? yang gemar bermabuk-mabukan adalah setan arak, yang gemar paras cantik/ganteng adalah setan cabul, yang suka uang/materi secara serakah adalah setan pemadatan, dan yang suka bertindak semena-mena dengan mengumbar emosi adalah setan jahat/iblis jahat. Setan-setan ini adalah setan berwujud badan manusia dan berada dialam manusia, camkan dan sadarilah!. Hati nurani manusia adalah bawaan sejak lahir, dan sebenarnya semua manusia tanpa terkecuali memilikinya, jadi bukannya hasil pembentukan di kemudian hari, tinggal kita menggali dan menempanya untuk mempertebal iman, guna mengintrospeksi dan menyadarinya saja. Oleh sebab terpikat/terbius kebendaan, kenikmatan duniawi, harta dan kekuasaan, demi kebendaan dan kepuasan nafsu angkara murka saling berebut, maka kehilangan sifat asli yang baik, kekacauan timbul dimana-mana, nafsu angkara murka merajalela, kebijaksanaan sirna, dunia menjadi kacau balau.

Siu Tao harus mempunyai hati yang tegar, baik didalam rumah atau diluar rumah tetap harus melakukannya dengan konsekuenm, berhati tulus dan mempunyai tekad yang kuat. Bekerja menggunakan tangan dan tubuh; merevisi diri, yang digunakan adalah hati dan mulut, yang senantiasa harus sesuai antara luar dan dalam. Bila hanya awalnya saja yang menggebu-gebu tetapi untuk kelanjutannya mengendor dan pada akhirnya putus di tengah jalan, maka tidak akan mendapat manfaat apa-apa, lagi pula kalau tidak mempunyai dedikasi yang tinggi dan bertingkah seperti orang yang tidak mengenal Tao, mana pantas disebut orang Siu Tao ?.

Siu Tao untuk merevisi diri, mempunyai kekeliruan dibetulkan, bila tidak ada harus terus ditingkatkan; Tao berada dalam diri sendiri, tidak mencari dari luar, luruskan diri sendiri dulu, baru meluruskan orang lain; menyempurnakan diri sendiri, baru menyempurnakan orang lain; apa yang tidak kita kehendaki jangan diperbuat untuk orang lain, nasib kita berada ditangan kita sendiri, kebahagian timbul dari hati, kita yang menentukan, kebajikan timbul dari hati nurani, kebijakan kita yang membetulkannya. Kata Meng Tze: ‘yang berusaha akan mendapatkan, yang merasa memiliki akan kehilangan’.
Yang maksudnya adalah menimba dalam diri kita sendiri. Siu Tao bukan sekedar asal-asalan saja, harus tegas jangan bertele-tele, jadi manusia harus mempunyai dedikasi, yang terutama adalah moral tinggi, moral seseorang semakin rendah harga dirinya semakin melorot, semakin tinggi moralnya, harkat kemanusiaannya semakin dihargai. Bagaimana caranya agar kita bisa mempunyai moral yang tinggi ? Harus berhati lapang, mempunyai wawasan yang luas dan berkeinginan untuk maju. Kalau tidak bisa menyayangi dan menghargai diri sendiri, tidak berdisiplin, hidup seenaknya saja, mana bisa berbicara mengenai dedikasi diri atau moral.

‘Ge Ci’, artinya adalah pengendalian diri. Misalnya seperti Ghong Chu pernah berkata:’Ge Ci Fu Li’, artinya adalah : mengendalikan ego diri kita sendiri dengan berpedoman etika’. Kalau bisa melaksanakan, dalam skala kecil tidak menimbulkan perkara, untuk skala globalnya dunia akan tentram dan damai.

orangmikir.jpgNasib kita berada pada tangan kita sendiri, orang yang bertekad kuat dan ulet pasti akan berhasil. Para Nabi dan orang bijak pendahulu kita, banyak yang berasal dari keluarga miskin, akhirnya bisa sukses, dipuja dan disanjung orang hingga kini; yang dari kalangan orang kayapun banyak, tetapi akhirnya terpuruk dan namanya hancur; apakah ini semua adalah permainan dari nasib ? Bukan! Ini adalah dikarenakan oleh ulahnya sendiri, seorang budiman merevisi diri demi menegakan kebajikan, hanyalah menebarkan atau menyebar luaskan, tidak mengharapkan imbalan. Maka wawasan harus luas, berpedoman yang lama untuk mempelajari yang baru; teguhkan semangat dan keimanan, contohlah perilaku para Nabi dan orang bijak pendahulu kita, sumbangkan pada negara dan bangsa; dengan hati suci-bersih tunaikan kewajiban sebagai seorang manusia sewajarnya, tidak usah mempersoalkan tentang nasib.

2no.jpgSiu Tao harus ‘spesifik’, yang dimaksud spesifik ialah : tidak terhanyut oleh harta, kecantikan, budi dan cinta, tidak silau dan takut pada kekuasaan, tidak tergiur oleh pangkat dan jabatan, tidak terbelenggu oleh peristiwa dan perasaan; tidak menghina yang lemah atau yang miskin, tidak mengiri pada kelebihan/keunggulan orang lain, tidak menertawakan kelemahan/kebodohan orang lain, tidak pendendam, tidak penghasut, tidak terlalu mempersoalkan untung-rugi, rela berkorban, ini disebut seorang ksatria rela berkorban demi kebajikan. Apabila tidak menghargai guru, tidak setia kepada Tao, tidak menghormati Dewa atau Budha, tidak sopan pada senior dan saudara seperguruan, tidak mengerti sopan-santun, berlaku sombong dan bertingkah adigang-adigung, menghianati perguruan, kalau yang semacam ini dikira spesifik maka habislah kau !

Siu Tao kalau bisa ‘spesifik’ baru mempunyai landasan yang kuat.
Apabila melihat senior atau saudara seperguruan kita bertindak kurang pas bahkan mungkin salah menurut pandangan kita, janganlah terlalu dipermasalahkan dan dianggap sangat serius, karena akan bisa menimbulkan ‘gab’ atau bahkan perpecahan diantara sesama kita nantinya, bila melihat senior, saudara seperguruan bersalah dan kita tidak mau atau tidak bisa lapang dada memaafkan mereka.

Kitapun akan ikut bersalah pula, apalagi kalau kita lantas menjadi pesimis tidak mau bergabung dan tidak mengikuti latihan, ini adalah menghambat diri sendiri. Kita harus sadar, senior atau saudara seperguruan dilain hari tidak mendapat kemajuan, juga tidak bisa menyeret kita; senior atau saudara seperguruan dilain hari maju pesat, juga tidak mampu mengkatrol kita; mereka tidak ingin maju, itu adalah urusan mereka, apa sangkut pautnya dengan kita ? mereka ingin maju, itu adalah kesadaran mereka, apa pula sangkut pautnya dengan kita ? Filsafat mengatakan :’mana ada orang yang tidak pernah digunjingkan orang lain, siapa orangnya yang tidak pernah menggunjingkan orang lain. Masalah selalu pasti ada, tidak usah menanggapi, dengan sendirinya tidak akan menjadi masalah.’ Masa depan kita, kita sendiri yang mengurusnya, tidak usah mempermasalahkan kesalahan orang lain. Ini yang dikatakan: ‘suami yang “siu”, suami yang dapat, istri yang “siu”, istri yang dapat’., tegasnya yang tidak “siu” tidak akan mendapatkan apa-apa.

listener.jpgMaka orang bijak berkata :’menyadari kelemahan/kesalahan sendiri, ialah pil penjernih hati, memahami kelebihan orang lain adalah tablet pelega nafas, menyimpang dari ini akan menjadi laut penderitaan.’.
Juga dikatakan : ‘memakai ajaran orang bijak untuk mengajar orang lain gampang, memakai ajaran orang bijak untuk mengajar diri sendiri sulit; menirukan perkataan orang bijaksana mudah, mencontoh prilaku orang bijaksana pelaksanaannya sulit; mencontoh perilaku orang bijak pada awalnya mudah, untuk melaksanakannya sulit.’ Maka lebih bijaksana kalau bersikap: ‘bila menyalakan diri sendiri sama dengan menyalahkan orang lain, maka kesalahan kita akan sedikit; bila memaafkan orang lain seperti memaafkan diri sendiri maka tiada kesulitan yang timbul dalam berhubungan dengan orang lain; didalam pembinaan diri, kita boleh keras terhadap diri sendiri tetapi dalam persaingan dengan orang lain janganlah lakukan hal itu’.

Bisa bersikap demikian akan selalu diliputi kegembiraan. Kemisteriusan TAO sulit diungkapkan dengan kata-kata; dirasakan dan diresapi, hati dengan sendirinya akan gembira ria; bila hati bersih dari keinginan dan tenang, kemelutpun sirna, budi pekerti akan timbul selamanya.

— ooo —

TAO ADALAH KESEMPURNAAN

MAKA DISEBUT MAHA AGUNG MAHA TAO

Leave a Reply